Ternyata anak usia 5 tahun itu…

Hai, Umma!

Pernah ngga sih Umma merasakan perkembangan anak usia 5 tahun yang penuh tantangan dan aduhay? Sekarang aku sedang merasakan itu. Karena buat aku, anak usia 5 tahun mulai menunjukkan kemandirian dan keinginan yang lebih besar untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar mereka. Contohnya, memaksakan diri untuk bisa naik sepeda roda dua dengan banyak percobaan latihan, meskipun jatuh mereka akan pantang menyerah dan terus mengayuh sepedanya.

Menghadapi tipe anak yang tidak mudah diatur sepertinya memerlukan lebih banyak pendekatan akan kesabaran, konsistensi, dan tentunya tetap dengan kasih sayang. Ada beberapa strategi nih Umma, bisa dicoba salah satunya ya 🙂

1.Pahami Perkembangan Anak

      Umma pasti mulai merasakan ya keterampilan sosial dan emosional anak sudah lebih kompleks. Belajar mengekspresikan apa yang dirasakan, mulai memahami emosi orang lain, dan mulai membangun pertemanan. Bisa jadi, anak memberikan kode dalam bentuk ekspresi ketidaknyamanan atau kebingungan. Jadi, Umma harus memahami tahapan perkembangan ini dan menyesuaikan dengan ekspektasi anak.

      2. Menetapkan Aturan yang Jelas dan Konsisten

      Biasanya anak-anak membutuhkan batasan untuk merasa aman, aturan yang jelas dan konsisten ini juga bisa membantu anak untuk memahami apa saja yang diharakan dari mereka. Contohnya, “Kita harus duduk saat makan dan minum”, atau “Kita tidak boleh tidur lebih dari jam 9 malam”. Konsisten dalam aturan ini membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan anak.

      3. Memberi Pilihan dan Kontrol

      Anak usia 5 tahun, terutama tipe anak keras kepala akan sering merasa kebingungan saat mereka tidak memiliki kontrol atas lingkungannya. Memberikan pilihan sederhana dapat membantu anak merasa berdaya dan bisa bekerja sama. Contohnya, “Kakak mau pakai baju panjang atau pendek?”, “Mau makan pakai lauk telur atau tempe?”. memberikan pilihan akan membantu anak belajar membuat keputusan dan mengurangi padu dengan orangtua.

      4. Menerapkan Konsekuensi

      Anak akan paham hubungan antara tindakan dan hasil dari konsekuensi yang tepat dan langsung. Disini penting sekali untuk Umma membedakan antara konsekuensi dan hukuman. Konsekuensi ini hasil alami dari perilaku anak, sedangkan hukuman sering bersifat negatif dan tidak mendidik. Contohnya, saat anak-anak berebut mainan, konsekuensinya adalah mainan diambil untuk sementara waktu. Perlu menjelaskan kepada anak mengapa ada konsekuensi itu dan bagaimana mereka bisa menghindari konsekuensi yang mirip di waktu yang akan datang.

      5. Menggunakan Penguatan Positif

      Salah satu cara mendorong anak untuk berperilaku baik adalah dengan penguatan positif. Memberikan pelukan, pujian, penghargaan, dan quality time yang lebih saat anak menjunjukkan perilaku yang diinginkan. Contohnya, “Kakak good job bisa membereskan mainan sendiri”. Penguatan kalimat positif ini membantu anak merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berbuat baik.

      6. Mengelola Emosi Orang Tua

      Sebuah tantangan emosional tersendiri menghadapi anak yang tidak mudah diatur ya, Umma. Menjaga diri untuk tetap tenang dan mengelola emosi saat menghadapi situasi sulit. Duduk, mengambil nafas panjang, membaca istighfar, atau mengambil waktu sejenak untuk memenangkan diri bisa membantu Umma merespons perilaku anak dengan lebih bijak. anak cenderung meniru perilaku orang tua, menjaga tetap tenang dapat menjadi contoh untuk mereka.

      7. Membuat Rutinitas

      Anak-anak biasanya suka rasa aman, betul tidak Ma? Rutinitas harian ini membantu mereka memahami apa yang diharapkan oleh anak, misalnya waktu tidur, makan, mandi dan bermain membantu anak merasa lebih terjadwal dan mengurangi kecemasan. Melibatkan anak dalam merencanakan rutinitas juga bisa ya Ma, sehingga mereka merasa memiliki tanggung jawab dan keterlibatan kegiatan sehari-hari.

      8. Mengajarkan Keterampilan Sosial dan Memecahkan Masalah

      Keterampilan penting yang perlu diajarkan kepada anak salah satunya adalah keterampilan sosial dan menyelesaikan masalah. Mengajarkan anak berbicara dengan sopan, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama dengan teman merupakan bagain dari pengajaran emosional mereka. Salah satu contohnya adalah, mengajarkan anak menggunakan kalimat untuk mengungkapkan rasa marah, dan memberikan contoh menyelesaikan masalah dengan solusi yang baik.

      9. Mengatasi Perilaku Negatif dengan Bijak

      Menjerit atau menghukum anak dengan keras hanya akan memperburuk situasi. Oleh karena itu penting untuk tetap tenang dan menghindari reaksi yang berlebih. Gunakan pendekatan yang lebih bijak seperti mengalihkan perilaku negatif anak ke kegiatan lain, memberi tahu anak cara mengekspresikan perasaan dengan kalimat, atau memberi waktu untuk anak dapat menenangkan dirinya sendiri. Konsisten dan sabar adalah koentji ya Umma.

      10. Mencari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

      Jika dirasa perilaku anak yang sulit diatur ini terus berlanjut, mungkin Umma perlu mencari bantuan dari profesional. Psikolog anak atau konselor keluarga bisa membantu orang tua untuk mencari dan memahami akar masalah dengan anak dan memberikan strategi penyelesaian masalah yang tepat. Jangan ragu ya, Ma.

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *